Posted on 11 Mei 2010 by virouz007
Seorang
konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan
merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya
dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat. Mereka
membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan
sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan. Si tukang cukur bilang,
“Saya tidak percaya Tuhan itu ada”.
“Kenapa kamu berkata begitu?” timpal si konsumen. Sahut
si tukang cukur, “Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di
jalanan…. untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Lalu katakan
kepadaku, jika Tuhan itu ada, adakah orang yang sakit? Adakah anak yang
terlantar?” Lanjutnya, “Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun
kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan katanya Yang Maha
Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi.”
Si konsumen diam untuk berpikir sejenak,
tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat. Si
tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi
meninggalkan tempat si tukang cukur. Beberapa saat setelah si konsumen
meninggalkan ruangan itu, ia melihat ada orang di jalan dengan rambut
yang panjang, berombak kasar “mlungker-mlungker” (istilah Jawa-nya),
kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak
terawat.


“Bunda, kenapa Allah gak kasih kita hidup enak yah?” tanya seorang anak pada ibunya.

